Oleh:Egi Saputra 

Sungai Pak Laheng terletak di Desa Pak Laheng di Kecamatan Toho, Kabupaten Mempawah. Orang-orang sering berkunjung ke sungai itu. 

Ada yang memancing ikan, ada juga yang mandi di sana. Suatu sore, saya dan teman-teman saya ingin juga ke sana. 

Jarak antara rumah saya dengan Sungai Pak Laheng sangat dekat. Letaknya di depan rumah kami. Kira-kira hanya 20 langkah. 

Kami mengunjungi Balai Benih Ikan (BBI) yang ada di pinggir Sungai Pak Laheng. Saat tiba di sana, terdengar gemuruh air yang mengalir di bebatuan sungai itu. 

Lalu kami berjalan di sepanjang sungai untuk mencari spot foto. Kami senang melakukan swa-foto ramai-ramai. Dan kami pun menemukan spot fotonya dan berfoto bersama-sama.
 
Setelah berpoto kami pun bersantai-santai terlebih dahulu untuk menikmati udara segar Sungai Pak Laheng. Ketika hari mulai malam, kami bergegas untuk pulang ke rumah masing-masing. (*) 


Suasana yang masih hening, asap kenalpot yang tak terlalu pekat, dengan orang-orang yang ramah. Hamparan lahan pertanian dapat dilihat disetiap sudutnya dihiasi dedaunan hijau yang melambai. Terbagi menjadi tiga bagian yaitu Daya, Hilir, dan Sungetuba.

Itulah kampungku. Namanya Benuang. Letaknya di Kecamatan Toho, Kabupaten Mempawah. 

Di bagian daya terdapat dua riam yang bernama Riam Jungsen dan Riam Pingatn'. Jarak antara Riam Jungsen dan Riam Pingatn' tersebut tidak terlalu berjauhan. Tetapi yang lebih sering dikunjungi yaitu Riam Jungsen. Karena jarak dari jalan raya menuju Riam Jungsen tidak terlalu jauh. 

Dan kondisi jalannya pun lebih bagus dan mudah ditempuh. Terdapat pohon-pohon yang rindang dengan diiringi kicauan burung. Sepanjang jalan menuju Riam kami disuguhkan dengan beragam macam sayuran kampung paku' (pakis hutan), daungk' mangala (daun ubi), rabukng (rebung).

Sesampainya di riam, semua lelah serasa terbayar. Karena dengan udara yang sejuk dan permandangan yang begitu menakjubkan dan menenangkan hati. Dengan diiringi gemuruh air terjun seolah berirama.

Tidak kalah menariknya bagian Hilir pun terdapat permandangan yang indah, karena sepanjang jalan terdapat hamparan sawah yang ditumbuhi  padi-padi yang segar melambai-lambai tertiup angin. 

Di sana terdapat tempat yang bernama Putlong. Tepat nya di hutan Pak Lato'. Putlong ini sejenis kolam pada jaman dahulu yang sangat dalam, dalamnya diibaratkan dengan satu poho durian yang sudah hidup bertahun-tahun.

Sedangkan di bagian Sungetuba ada gunung tinggi yang indah dengan pohon-pohon yang tinggi. Sayangnya sekarang sudah tidak terlalu bagus lagi karena terkena longsor tahun lalu.Yang menyebabkan pohon-pohon banyak bertumbangan sehingga banyak gunung yang gundul.

Yok berkunjung ke kampung ku...

Oleh: Andriani Mufata, Monika Seselia

Oleh: Frezzy Erlangga


Saya mengikuti ujian renang saat kegiatan pramuka. Ujian ini berlangsung dalam minggu kedua bulan Januari 2022. 

Saya bersama teman-teman melakukan ujian untuk pengambilan Tanda Kecakapan Khusus (TKK) berenang. Lokasi pelaksanaannya di Gua Maria Anjungan. 

Tiba di sana, segera terdengar suara ceburan orang terjun ke kolam renang. Dan canda tawa orang-orang yang sedang berenang. 

Di tempat itu terdapat tiga kolam renang yang di sediakan untuk anak-anak, remaja, dan orang dewasa.

Setelah melakukan kegiatan uji TKK berenang kami pun langsung berkunjung ke bagian atas. Bagian itu merupakan kawasan Rumah Retret Yohanes Paulus II.  

Kami ke sana untuk melakukan foto bersama. Di kawasan rumah retret tersebut banyak tempat spot foto yang estetic. 

Sehingga sangat bagus untuk berfoto. Juga bisa sekaligus menikmati sunset saat hari menjelang sore.

Dan setelah berfoto kami bersantai sejenak sambil memandangi pemandangan. Ketika waktu menunjukkan hampir jam lima sore, kami pun segera pulang bersama sama.



Oleh: Silvester Hunter

Pukul 07.00 WIB kami pelajar di SMAN 1 Toho sudah tiba di sekolah. Kegiatan pertama adalah piket membersihkan kelas. 

Sebab, kami mulai belajar pukul 07.30 WIB. Mulainya belajar ditandai suara bel. 

Setiap hari Jumat, giliran saya piket bersama tiga teman, yaitu Robi, Mikhael, dan Delvin. Kami sama-masa pelajar di kelas X MIPA 2. 

Setelah bel berbunyi, pelajaran jam pertamapun mulai. Diawali dengan doa dan mengucapkan salam kepada guru. 

Hari Jumat, pelajaran pertama kami adalah kimia. Guru kami memulai dengan menjelaskan suatu susunan atom. Setelah menjelaskan lumayan lama kami memulai kerja kelompok. 

Bersama lima teman kelompokku yaitu Pedi, Iskia, Apo, dan Kahran, kami membuat miniatur molekul atom menggunakan plastisin. Kami ditugaskan untuk membuat video tentang apa yang kami buat. 

Kemudian mempostingnya di media sosial kami yaitu instagram. Kerja kelompok tersebut sangat mengasyikan, dimana kami saling membantu dan sesekali bercanda agar tidak terlalu bosan.

  Oleh: Pedro Gabriello        
           
                                                   
                                             
Saya bersama teman-teman berencana pergi ke Riam merasap di Sanggau Ledo pada saat acara 17-an.

   

Setelah berdiskusi kami sepakat akan berangkat pada tanggal 17 Agustus 2020 pagi.



Kami pun berangkat ke tempat tujuan kurang lebih pukul 10:00 WIB.Kami berangkat menggunakan kendaraan sepeda motor sebanyak enam orang. Kondisi jalanan yng kmai lewati agak sedikit rusak. Namun, hal tersebut tidak membuat kami patah semangat. 


Tidak terasa, setelah kurang lebih 6 jam menempuh perjalanan, tepatnya pukul 16.00 WIB kami tiba ditempat tujuan yaitu Desa Sahan.


Gemercik suara air riam mulai terdengar. Hal ini menambah gairah kami untuk segera turun langsung ke riam tersebut. 


Sambil membawa alat camping kami pun langsung menuju riam, suasana riam yang sangat sejuk dan air yang deras membuat kami semakin bergairah.


Penat yang tadinya kami rasakan saat di perjalanan terbayar karena keindahan air riam dan alam yang masih sangat asli.


Sensasi alam yang luar biasa menciptakan ketenangan.


Karena hari mulai sore kami bergegas untuk mendirikan tenda, setelah tenda berhasil berdiri. Kami pun langsung pergi mendekat ke riam untuk melakukan foto bersama.




Desa Pak Laheng di Kecamatan Toho, pernah mengalami banjir pada tahun 2021. Mulanya turun hujan deras di beberapa wilayah di desa ini. 


Banjir tersebut terjadi pada 14 Juli 2021. Permukaan air mulai meninggi sekitar pukul 01.00 WIB. 


Akibat banjir itu, rumah warga terendam air hingga ketinggian kurang lebih dua meter. Bahkan kawasan Pasar Toho tergenang air. 

Anak-anak asyik bermain air. Para pedagang sibuk membersihkan kiosnya karena terkena lumpur. 

Beberapa kios beras mengalami kerugian. Berasnya rusak karena terendam air. Begitu juga dengan telur ayam di tempat jualan mereka. 


Banjir baru mulai surut sekitar pukul 14:00. Syukurlah tidak ada korban jiwa dalam bencana ini. 

Penulis: Berta, Melisa Memel, Dhea Ananda Alta



Di sini di Desa Pak Laheng aku terlahir menjadi seorang individu yang kental akan keramahan adat dan budaya kami, di Desa Pak Laheng terdengar riuh akan kedamaian alam jaraknya tak jauh dari kota.


Pagi ini terdengar kicauan burung dan suara ayam yang bersahutan membangunkanku dari tidurku dan penduduk sekitar mulai melakukan aktivitasnya, sawah-sawah yang mulai menghijau menyejukkan pemandangan sang empu jalan



Di desa kami terdapat tempat-tempat yang sangat indah yang dapat memanjakan mata salah satunya adalah sungai Pak Laheng, air perbatuan nya yang jernih dan sejuk membuat kita ingin langsung terjun ke dalam air sungai nya.





Diatas tepi tebing Sungai Pak Laheng tepatnya di Desa Pak Laheng Rt/005 Rw/002 ada sebuah warung makan dan ada juga didirikan dua saung milik salah satu warga yaitu Pak Tono atau yang lebih dikenal dengan Pak Banir.





Pemandangan air sungai yang riuh mengalir mendatangkan rasa lega di hati. Saung didekat sungai itu sangat cocok menjadi salah destinasi wisata pilihan untuk bersantai sambil menjelajah kuliner khas Desa Pak Laheng.





Sedikit ku jelaskan tentang desaku pak laheng merupakan satu desa yang terdaftar di Kecamatan Toho dengan jumlah penduduk yang ramai dengan luas wilayah 12.797.88 km²




Berbagai macam pekerjaan penduduk desa pak laheng mulai dari petani, pekebun, peternak, pegawai swasta, hingga pegawai negeri bervariasinya pekerjaan maka semakin tinggi pula tingkat toleransinya.





Suku dominan yang tinggal di Desa Pak Laheng adalah suku Dayak, kemudian terdapat juga suku Melayu, Jawa, Tionghoa dan lain-lain.





Suku yang beragam maka akan bermacam-macam pula agama di desa kami agama Katolik menjadi agama yang cukup mayoritas di desa kami kemudian disusul lagi agama-agama lain seperti Kristen dan Islam.




Tetapi kami saling menghargai dan  menghormati antar sesama masyarakat Desa Pak Laheng hal ini yang membuat saya merasa senang menjadi salah satu masyarakat di Desa Pak Laheng.






Tim penulis: Cesyaria Veneranda Castro, Christoper Alden, Egi Saputra, Marselus Alim, Ria Angga Putra, Silvester Hunter (The next generation)